Di balik Phantom Blade Zero: Sensasi yin dan yang penuh aksi dengan bumbu tantangan Souls-like
Phantom Blade Zero lebih dari sekadar pertarungan bos. Namun, game ini membawa kami dalam duel bertempo cepat, akrobatik, dan penuh aksi, menghadirkan ketegangan yang mendebarkan ala pertarungan antar dua rival yang sama kuatnya dalam film bela diri klasik, seperti pertarungan sepuluh menit Bruce Lee dengan Chuck Norris di The Way of the Dragon, atau pertarungan Michelle Yeoh dan Zhang Ziyi di Crouching Tiger, Hidden Dragon.
Jika kamu pernah memainkan RPG aksi third-person modern, terutama yang banyak dipengaruhi oleh Dark Souls, kamu akan menemukan banyak hal yang familier. Tindakan seperti serangan berat dan menahan serangan membutuhkan sumber daya energi yang disebut Sha-Chi. Ini juga digunakan untuk merespons serangan musuh yang berkode warna agar kamu bisa menghindar atau menangkis dengan tepat.
Namun, eksekusinya terasa sangat berbeda.
Ambil contoh, Phantom assassin Soul tidak hanya menghunus pedangnya di depan tubuhnya untuk mengantisipasi serangan saat bertahan; ia menyerang pedang yang datang, mencerminkan filosofi yin-yang dari kungfu Tiongkok, yang meyakini serangan dan pertahanan adalah satu kesatuan.
Seni bela diri, terutama dalam film wuxia, sering terasa seperti tarian pertarungan, yang mungkin juga mengingatkan pada urutan gerakan yang dikoreografi dan diatur dengan cermat dalam game aksi sinematik seperti God of War atau Uncharted. Momen-momen ini ada di Phantom Blade Zero, tetapi juga tidak begitu saja digambarkan sebagai quick-time event, karena pemain sering kali tetap sepenuhnya mengendalikan tindakan Soul dari waktu ke waktu.
Saat Soul menjelajahi dunia bela diri Wulin yang penuh bahaya, setelah duel yang membuatnya terluka parah dan hanya memiliki 66 hari untuk hidup, ada ketegangan lain yang bisa aku rasakan mengenai arah plot Phantom Blade Zero: apakah ini petualangan aksi third-person sinematik tempat kamu menjadi hero-nya atau perjalanan Souls-like yang penuh kesulitan tempat kamu harus berjuang mati-matian? Dari pengalamanku memainkan babak pertamanya, game ini berhasil menyeimbangkan keduanya.
Jelajahi Wulin
Pendiri S-Game dan game director Soulframe Liang menghabiskan sekitar satu dekade membuat game berskala kecil, termasuk tiga game seluler, sebelum beralih ke AAA. Ia menyadari minatnya untuk menyatukan pengalaman modern yang mudah diterima dengan game hardcore yang ia mainkan sejak kecil.
Babak 1 mengirim Soul ke hulu melalui lembah yang dipenuhi musuh yang kerasukan karena wabah bernama Transcendence. Sejak awal, Soul adalah pembunuh yang sangat piawai, jadi ia bisa dengan cepat menghabisi banyak lawan menggunakan senjata utamanya, Sanguine. Pedang satu tangan ini berbilah baja merah darah, jadi namanya sangat pas.
Namun, eksplorasi dan penemuan juga merupakan inti dari game RPG aksi ini. Aku menemukan tebing-tebing dengan bekas tebasan pedang, yang artinya ini bisa dipanjat. Aku juga menjumpai rintangan yang memberi petunjuk bahwa ada alat yang belum didapat, seperti titik tambat yang jelas mengisyaratkan jangkar pengait untuk melintasi jurang yang mustahil diseberangi, atau karung yang tergantung di pohon tinggi yang menandai adanya busur. Detail lainnya, seperti pesan dalam aksara Tiongkok yang terukir di dinding, mengisyaratkan misteri yang menunggu untuk diungkap.
Bagi Liang, ini semua tentang menciptakan dunia Wulin yang mendalam bagi pemain, sembari mempertahankan tema awal untuk membuat film kungfu yang bisa dimainkan.
"Yang paling penting adalah kami menghadirkan pengalaman yang lebih kaya, tetapi tidak berarti membuatnya terlalu luas," jelas Liang. "Kami punya peta yang bagus, tetapi alih-alih memenuhinya dengan berbagai misi sampingan, kami membuat beberapa yang sangat mendalam dan dramatis, tentang wuxia, atau balas dendam. Kami membuat pengalaman yang mendalam, bukan banyak."
Kentalnya nuansa misteri Wulin juga muncul dari cara level didesain dan disajikan. Peta dibuat bergaya lukisan tinta Cina, dan semakin banyak karya seni muncul seiring penjelajahan serta istirahat di lonceng.
"Ini memberi gambaran kasar arah game, tetapi tidak terlalu mengerucut, sehingga masih menyisakan ruang tertentu untuk dijelajahi," kata Liang, yang sebelumnya belajar arsitektur di Tsinghua dan Yale sebelum menerapkan hasil pembelajarannya ke dalam desain dunia game. "Apa yang kami lakukan dengan Phantom Blade Zero adalah menghadirkan bahasa desain modern dan kemudian menggunakan seni serta desain untuk mengubahnya menjadi pengalaman imersif, dan bukan daftar misi sampingan atau panduan arah demi arah di peta. Kami masih ingin menjaga keautentikan era keemasan game."
Menjadi autentik dengan cara baru
S-Game bekerja keras untuk membuat Phantom Blade Zero terasa autentik, terutama selama motion capture yang ekstensif. Pertarungan melawan formasi tujuh pendekar pedang melibatkan pengambilan gerak tujuh penampil secara bersamaan. Untuk pertarungan melawan barongsai Tiongkok, studio merekrut seorang master besar barongsai yang telah mewarisi seni ini selama lebih dari 10 generasi.
Legenda seni bela diri Hong Kong, Donnie Yen, juga terlibat dalam game ini. Ia memerankan Mó Yuan, ayah dari Soul, dan juga bertindak sebagai konsultan kreatif, membawa "tim stunt keluarganya" untuk motion capture.
"Donnie memberikan banyak ide bagus dalam koreografi dan juga mengajari kami estetika dan filosofi tentang kungfu, tentang permainan pedang, serta ia mengajari kami tidak hanya cara melakukan gerakan, tetapi juga apa yang mendasari gerakan tersebut, yang juga telah membantu mengembangkan game kami ke level baru," ujar Liang. "Ia juga sangat sibuk selama dua tahun terakhir berakting dan menyutradarai filmnya sendiri, tetapi ia akan melakukan apa pun yang ia bisa untuk mendukung kami. Terkadang, saat libur di akhir pekan, ia akan terbang dari Eropa ke Tiongkok pada Jumat malam, membantu kami dengan motion capture, lalu terbang kembali ke Eropa pada Minggu sore. Ini luar biasa, tetapi membuat kami sangat terharu, dan kami sangat menghargainya."
Bahkan lebih banyak perhatian telah dicurahkan untuk 55 senjata yang bisa digunakan Soul, yang masing-masing membutuhkan waktu satu bulan untuk motion capture. Banyak di antaranya pertama kali digunakan oleh bos dan menjadi milikmu setelah mengalahkan mereka, jadi ketika bos wanita menggunakan senjata, studio meminta penampil wanita untuk merekam gerakannya, memberikan gerakan yang berbeda dari gerakan Soul saat ia mengambil senjata yang sama. Bagi Liang, semua kerja keras ini adalah demi kepuasan pemain.
"Meningkatkan kualitas dan kekayaan pengalaman, alih-alih cakupan," jelasnya. "Kami melakukan satu bulan mocap, tetapi bagi pemain, [gameplay] terasa alami saat bermain, dan kalian tidak menemukan sesuatu yang aneh. Kalian tidak fokus pada berapa banyak skill, tetapi jika diperhatikan secara mendetail, ada banyak sekali aksi dan eksekusi, dengan berbagai gerakan yang saling terhubung."
Komitmen terhadap keautentikan itu juga berarti mematahkan stereotip tentang game yang mengangkat budaya Tiongkok. Lembah itu memiliki hutan bambu, ciri khas film wuxia klasik mulai dari A Touch of Zen hingga House of Flying Daggers. Namun menjelang akhir Bab 1, Soul mencapai sebuah menara dengan elemen steampunk yang lebih modern, dimodelkan dari hasil pemindaian 3D pabrik baja terbengkalai sungguhan di Beijing. Bahkan barongsai Tiongkok, dengan tarian yang autentik dan iringan drum yang dimainkan oleh master sungguhan, mendapatkan sentuhan unik di fase keduanya, ketika musiknya berubah menjadi rock and roll yang lebih modern.
"Kami tidak ingin menciptakan stereotip budaya Tiongkok atau Asia," kata Liang. "Kami memang orang Tiongkok, tetapi kami generasi baru, dan citra Tiongkok saat ini mungkin juga mencakup robot atau kereta cepat. Jadi kami akan menyajikannya sebagai generasi baru kreator Tiongkok."
Mengonsep ulang level kesulitan
Aku sempat melawan barongsai itu, yang muncul lebih jauh di dalam game, tapi aku tidak pernah melihat fase keduanya. Fase pertamanya saja sudah sangat menantang. Ini menuntut pengamatan yang cermat terhadap gerakan barongsai sambil menghindar dari serangan, mulai dari duri lapis baja di sekitar kepalanya hingga embusan apinya.
Phantom Blade Zero tidak ingin kamu putus asa sejak awal game. Bos-bos Babak 1, termasuk Jagged Steel, sosok besar serampangan yang senjatanya dapat menyebabkan efek bleed dan punya nama yang sama dengan senjatanya, Peng Meng seorang ahli kapak yang tangguh, dan The Hunt, seorang Hunter bertopeng dari Order–masing-masing mengasah apa yang telah kamu kuasai dalam progres. Namun demikian, game ini tidak segan menaruh beberapa bos rahasia di rute tersembunyi yang jelas belum siap kuhadapi.
Ini semua menekankan bahwa keunikan Phantom Blade Zero dalam menyajikan sensasi sinematik sepadan dengan kerja keras pemain untuk meraih kemenangan, dan menekan tombol tanpa strategi justru membuatmu dalam masalah besar.
Namun, S-Game juga telah mengambil langkah untuk mengurangi frustrasi yang umum muncul di game Souls-like lainnya. Kamu tidak kehilangan sumber daya apa pun saat mati, dan lonceng-lonceng berada dekat dengan pertarungan bos. Aku akhirnya bisa menghabiskan health bar The Hunt, hanya untuk melihatnya bangkit lagi di fase kedua, lengkap dengan health bar kedua. Aku sendiri sudah kehabisan item penyembuh. Lega rasanya saat tahu bahwa aku hidup kembali di checkpoint setelah mati dan bisa langsung melanjutkan dari fase kedua.
Kamu juga bisa menurunkan level kesulitan dari mode Pathbreaker default ke Wayfarer yang lebih mudah. Namun, S-Game tidak hanya memberikan mode game yang lebih mudah, tapi juga memberikan opsi bagi pemain hardcore yang ingin lebih banyak tantangan. Mode Hellwalker menggunakan AI adaptif, sehingga musuh membaca kebiasaan bermain dan mengubah pola serangan mereka secara real-time. Mode 66 Days mengubah hitungan mundur cerita menjadi batasan permanen tentang berapa kali Soul bisa mati sebelum game berakhir selamanya.
"Mode 66 Days terbuka di New Game Plus," ujar Liang. "Kami tidak ingin pemain merasa terlalu frustrasi di percobaan pertamanya, jadi kami berharap sebanyak mungkin orang menyelesaikan cerita dan merasakan apa yang dipikirkan sang pahlawan. Permainan kedua adalah tentang gameplay murni dan tantangan!"
Phantom Blade Zero dirilis di Epic Games Store pada 29 Oktober 2026.
