
Berita
Relooted adalah game pencurian repatriasi relik afrika yang tidak disangka kamu butuhkan
B
Brian Crecente
“Prosesnya yang cukup rumit,” kata Ben Myres, Creative Director Relooted. “Kami memiliki dua peneliti selama dua tahun. Jumlahnya sangat banyak.”
Akhirnya, tim memutuskan artefak yang akan digunakan dalam Relooted dengan berfokus pada cerita yang terkait dengannya.
“Kami mencari artefak yang memiliki cerita hebat tentang bagaimana artefak itu dijarah,” katanya. “Mengapa artefak itu penting bagi masyarakat? Apa pun yang berhubungan dengan dengannya.”
Misalnya, salah satu artefak di game berupa genderang dari Kenya. Orang Kenya mengira benda itu telah hancur bertahun-tahun yang lalu, kata Myres.

“Artefak ini adalah yang paling penting secara spiritual bagi mereka,” katanya. “Mereka mengira artefak itu telah hancur. Ternyata artefak itu telah berada di penyimpanan British Museum selama 100 tahun terakhir. Orang Kenya pertama yang melihatnya kembali setelah 100 tahun adalah pada tahun 2010-an. Artefak itu diambil pada tahun 1870.
“Orang yang melihat genderang itu adalah keturunan raja yang dulu menjadi pemilik aslinya. Jadi, artefak ini tidak sekadar ditemukan di debu dan digali oleh para arkeolog. Artefak ini adalah bagian dari budaya yang masih hidup.”
Ide game yang ditemukan di museum
Artefak yang ditemukan di Relooted memiliki peran penting. Game ini berlatar di abad ke-21 yang terinspirasi oleh Futurisme Afrika, setelah adanya perjanjian yang menjanjikan pemulangan artefak Afrika dari museum Barat. Namun, sebuah kejutan di menit terakhir merusak kesepakatan itu, dan sekarang timmu yang berisi anggota dari berbagai negara Afrika harus bekerja sama untuk merebut kembali 70 artefak.
Game ini pada dasarnya adalah permainan platform puzzle gulir samping. Pemain harus mengintai museum, merencanakan rute masuk dan pelarian, lalu melakukan aksi pencurian secara langsung saat alarm berbunyi dan pintu tertutup dengan keras. Tidak ada kekerasan, benar-benar seperti Ocean's Eleven.
Ide ini berawal dari Myres saat ia dan orang tuanya berada di London.
“Aku pergi ke bar video game; mereka pergi ke British Museum,” katanya. “Kami bertemu lagi untuk makan malam, dan ibuku sangat marah karena baru saja melihat bahwa mereka memindahkan seluruh bagian depan sebuah kuil dari selatan Turki. Dia seperti, ‘Gila sekali.’ Lalu dia berkata, ‘Kamu harus menjadikannya sebuah game.'”
Myres mengatakan bahwa awalnya ia tidak tahu bagaimana cara membuatnya, tetapi seiring waktu, idenya mulai terbentuk. Ia memutuskan untuk menjadikannya berlatar di Afrika karena gerakan repatriasi artefak Afrika cukup besar, dan ia memilih artefak Afrika sebagai fokus utamanya.
Lalu tim yang terus berkembang mulai merancang cara membuat putaran permainan pencurian itu berjalan.

“Tidak banyak referensi yang bersifat non-kekerasan,” katanya.
Putarannya memang sulit dikuasai, tetapi begitu kamu berhasil, kamu akan merasakan perpaduan antara parkur, pemecahan puzzle cerdas, dan mengetahui semuanya telah dimulai. Kamu tidak bisa berhenti sampai berhasil sampai ke kendaraan pelarian.
Intro Relooted memandumu melalui konsep kontrol dasarnya. Selama kamu menahan tombol pemicu, karaktermu akan berlari dan secara otomatis melakukan parkur di lingkungan sekitarnya. Jika tombol aksi diketuk, akan memberikan kecepatan tambahan. Dasar-dasar ini membantu menjelajahi tata letak museum dengan cepat, seperti: melompat di dinding, menyelinap di bawah tali pengaman, berlari melintasi pelat tekanan, dan meluncur di bawah pintu yang hampir tertutup.
Di akhir tutorial, kamu akan mengatur posisi benda-benda di sekitar ruangan untuk menyiapkan jalur yang akan kamu ambil. Akhirnya, game mulai memperkenalkan para anggota kru dengan keterampilan berbeda-beda. Kamu bisa menugaskan mereka dalam pencurian, seperti bergelantungan dari langit-langit untuk membantumu melompat dan berayun, atau membuka paksa pintu pada waktu yang tepat.
Meskipun seru untuk dipelajari, gerakan dan mekanik game ini hanyalah satu bagian kecil saja. Namun, permainannya memerlukan waktu penyelesaian yang sangat lama. Sering kali, tim sempat kesulitan selama prosesnya.
“Kami sempat membuat versi game strategi berbasis giliran,” kata Myres. “Kami membuat versi simulasi.”

Namun, segalanya baru benar-benar jelas ketika game berbasis fisika berjudul Teardown dirilis.
“Game ini punya putaran permainan yang pada dasarnya kami adopsi dan ubah ke perspektif kami,” ujarnya. “Begitu kamu mengambil salah satu artefak yang ingin kamu curi, alarm langsung berbunyi. Kalau kamu gagal keluar dalam 30 detik, game-nya selesai.”
Meskipun merupakan salah satu elemen game, gerakan parkur saat melarikan diri dari museum sambil membawa artefak bukanlah yang terpenting.
“Parkur itu hampir seperti hadiah,” kata Myres. “Yang kamu coba lakukan sebelumnya adalah menghilangkan hambatan sebelum parkur, karena tujuannya adalah membuat rute ini bebas dari rintangan sehingga kamu bisa kabur dengan cepat.”
Sebuah game yang tumbuh bersama tim
Seiring perkembangan gayanya, tampilan game pun semakin berubah selama proses pengembangan, kata Myres. Dia menyebut bahwa perubahan itu merupakan hasil alami dari tim yang terus tumbuh, dan setiap anggota baru ikut membentuk tampilan dan nuansa Relooted.
Misalnya, gaya visual game ini awalnya mengusung Afrofuturisme, tetapi akhirnya bergeser ke Futurisme Afrika, sebuah perbedaan yang mungkin tidak langsung dipahami semua orang. Jika Afrofuturisme didasarkan pada semacam kolase referensi budaya Afrika dengan negara fiksi, Futurisme Afrika merujuk pada lokasi nyata dengan referensi yang spesifik.
“Setiap anggota kru pencurian berasal dari negara, budaya, dan etnis tertentu, dan seluruh referensi pakaian mereka dalam membuat desain hanya diambil dari budaya lokal kawasan tersebut, bukan dari kolase acak,” katanya.

Judul ini bukanlah yang pertama di studio tersebut. Yang pertama berjudul Semblance, dirilis pada tahun 2018, dan menjadi IP pertama yang dikembangkan di Afrika dan diluncurkan di konsol Nintendo.
Ukuran tim Nyamakop berkembang atau berkurang tergantung pada game yang sedang mereka kerjakan. Saat mengembangkan Semblance, studio tersebut beranggotakan tiga orang penuh waktu dari total tujuh orang. Namun, untuk Relooted, jumlahnya sempat mencapai 30 orang penuh waktu, dan menurut Myres, daftar kredit game ini akan jauh lebih panjang.
“Kami benar-benar membangun tim untuk membuat game ini,” katanya.
Studio ini berbasis di Johannesburg, Afrika Selatan, dan berfokus pada game yang terinspirasi dari Afrika, dikembangkan oleh tim yang beragam dan inklusif. Mereka sebagian besar berasal dari Afrika Selatan, tetapi juga dari seluruh Afrika.
“Tidak banyak peluang bagi orang-orang di sini untuk membuat video game secara profesional.” kata Myres. “Jadi, kalau kamu menawarkan kesempatan itu kepada mereka, dan kebetulan proyeknya terinspirasi dari budaya Afrika. Sesuatu yang jarang kamu lihat di dalam game dan orang-orang akan sangat antusias untuk terlibat.
“Sebagian besar tim pengembang kami memang berada di Afrika Selatan, tetapi kami memiliki sekitar dua belas orang dari berbagai negara Afrika lainnya untuk mengerjakan game ini. Saat ini, kami hanya memiliki satu seniman lingkungan hidup dari Ethiopia.”
Artefak nyata yang masih tersimpan di museum
Topik ini juga menarik dan penting bagi tim yang mengerjakannya. Artefak merupakan inti tema tersebut.
Tim tersebut bersusah payah menciptakan setiap artefak dalam model 3D menggunakan beberapa gambar yang bisa ditemukan.
“Kami memiliki seniman 3D penuh waktu yang tugasnya hanya melihat foto-foto atau menemukan hasil pindaian yang tersedia, lalu membuat model tekstur dari foto tersebut”, kata Myres. “Bahkan tidak banyak foto untuk beberapa artefak karena sudah terlalu lama disimpan, jadi kami harus melakukan sedikit perkiraan.”
Meskipun karakter dalam game dan orang-orang yang membuatnya merasa bahwa artefak tersebut harus dikembalikan, game ini tidak dimaksudkan untuk "menekan orang-orang dengan pesan itu,” ujar Myres.

“Kami ingin memberikan informasi kepada masyarakat tentang betapa pentingnya artefak ini bagi masyarakat yang kehilangannya,” katanya. “Selanjutnya, masyarakat dapat memutuskan sendiri apakah mereka menganggap artefak tersebut harus tetap berada di museum atau tidak.”
Tidak ada satu pun museum dalam game ini yang didasarkan lokasi di dunia nyata; sebaliknya, semuanya merupakan fiksi. Satu-satunya tempat nyata dalam game ini adalah di Afrika.
Setelah artefak “dijarah kembali”, artefak tersebut dapat dilihat di markasmu, tempat kamu juga bisa mempelajari sedikit sejarah nyata dari artefak tersebut. Bahkan untuk menulis deskripsi singkat ini pun menjadi tantangan tersendiri, karena ada banyak hal yang ingin disampaikan tentang setiap item. Dalam proses risetnya, tim pengembang membuat basis data yang berisi berbagai informasi tentang semua artefak tersebut.
Saat ini, konten yang ada dalam game hanya beberapa paragraf, tetapi Myres mengatakan mereka mungkin akan menyempurnakannya sedikit lagi. Tim sangat sadar untuk tidak memberikan terlalu banyak informasi ke pemain.
Membangun kru yang autentik
Markas krumu menjadi rumah bagi museum artefak yang telah diambil dalam game, dan juga merupakan titik awal setiap misi. Dengan nuansa yang terasa seperti penghormatan terhadap acara televisi Mission: Impossible orisinal, misi tersebut memiliki pengarahan yang membantumu memilih anggota kru yang ingin kamu ajak. Setiap anggota kru memiliki keahlian unik, termasuk tukang kunci, ahli gadget, pemain akrobat, peretas, dan bahkan orang berotot.
Meskipun kru terdiri dari karakter dengan latar belakang berbeda-beda, kru tersebut bukanlah hasil dari keinginan untuk merepresentasikan semua negara asal anggota tim pengembang. Sebaliknya, proses ini tumbuh secara alami yang berkontribusi ke pengembangan game.
Mereka bekerja keras untuk mencari pengisi suara yang benar-benar mewakili latar belakang para karakter tersebut. Jadi, misalnya, karena ada karakter orang Angola, tim pengembang berusaha menemukan pengisi suara orang Angola, dan upaya ini tidak mudah menurut Myres. Meskipun demikian, bukan mustahil untuk menemukan pasangan yang benar-benar cocok. Salah satu karakternya berasal dari Kongo, tetapi diisi suaranya oleh aktor asal Afrika Selatan.
“Aku rasa kumpulan aksen Afrika autentik tetap menjadi yang paling beragam yang pernah ada dalam video game,” ujar Myres. “Sering kali di Barat, kamu hanya mendengar satu jenis aksen Afrika yang masih dominan di karya seperti Black Panther dan kami sangat ingin menghindarinya dengan menghadirkan sebanyak mungkin aksen Afrika yang autentik.
“Jadi, seperti si pria akrobat kecil, ia punya aksen Francophone Afrika Barat yang sangat indah dan benar-benar autentik.”

Setelah memilih tim, kamu akan masuk ke fase berikutnya dalam game, yaitu menelusuri museum, menentukan rute menuju artefak, dan merencanakan cara keluar sebelum timmu tertangkap. Kamu juga akan mempelajari sedikit informasi tentang level tersebut.
Terakhir, kamu menempatkan seluruh kru pendukungmu, memastikan mereka siap menjalankan perannya dalam pencurian. Ada batasan mengenai di mana dan berapa banyak anggota kru yang bisa kamu tempatkan.
Secara keseluruhan, game bernuansa puzzle yang cukup kuat. Myres mengatakan bahwa dia yakin ini adalah game pencurian sejati yang pertama.
“Aku bilang begitu ke tim pengembang kami karena game ini setengah aksi dan setengah puzzle,” katanya. “Puzzle muncul saat kita harus menentukan rutenya. Aksinya datang saat eksekusi. Setiap level terdiri dari mungkin lima sampai 15 puzzle kecil yang sangat sederhana yang harus diselesaikan. Namun, karena kamu harus menyelesaikan semuanya sekaligus sebagai bagian dari pelarian, hal itu menjadi makin sulit.
“Jadi, puzzle-nya memang sederhana, tetapi seluruh level pada dasarnya adalah satu puzzle besar.”
Tambahkan Relooted ke daftar keinginan di Epic Games Store sekarang!