
Dari adaptasi film tahun 2027 hingga Scooby-Doo, Dead by Daylight siap membawa perubahan besar dalam semesta horornya pada dekade mendatang

Setelah 41 Killer, 53 Survivor, 61 peta, dan 70 juta pemain, Dead by Daylight terus meneror dan menghibur, sembari membangun sebuah metaverse horor untuk basis penggemarnya yang berkembang pesat.
Meskipun pencapaian game ini dalam sepuluh tahun pertamanya sudah sangat mengesankan, yang lebih menakjubkan lagi adalah arah yang ingin dituju oleh sang pengembang, Behaviour Interactive, untuk game horor survival multipemain asimetris ini selama sepuluh tahun ke depan.
Ikon horor yang gila dan terkesan mustahil diadaptasi, proyek film, pengembangan aspek sosial saat diburu atau memburu, dan perombakan tampilan serta nuansa game, semuanya sedang dibahas.
Dulu, pada tahun 2016, Dead by Daylight hanyalah karya buatan internal terbaru dari Behaviour Interactive. Sebuah judul yang, menurut Remi Racine, salah satu pendiri dan CEO Behaviour, awalnya diperkirakan akan terjual sekitar 300.000 kopi.
"2025 merupakan tahun tersukses Dead by Daylight sejauh ini," ujar Racine dalam siaran pers saat merayakan ulang tahun ke-10 game tersebut. "Kami menyambut lebih dari enam juta pemain baru dan memecahkan rekor performa. Pertumbuhan ini berlanjut hingga tahun 2026—selama dua belas bulan terakhir, pendapatan game ini meningkat lebih dari 50 persen."

Rumah Horor
Behaviour Interactive memulai kiprahnya dengan nama Megatoons pada tahun 1992. Setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, sempat dikenal sebagai Artificial Mind & Movement, dan kemudian berganti nama, perusahaan itu mulai berkembang dari mengerjakan proyek pesanan ke pengembangan game orisinal.
Saat Dead by Daylight dirilis pada tahun 2016, studio itu masih lebih dikenal dari karyanya bersama pengembang dan penerbit lain.
Meskipun Dead by Daylight telah terbukti menjadi kesuksesan besar bagi Behaviour, Mathieu Cote, kepala kemitraan perusahaan itu, mengatakan bahwa mereka masih cukup sering mengerjakan proyek pesanan.
"Sumber pendapatan utama kami masih berasal dari proyek pesanan." Atau lebih tepatnya, proyek-proyek itu menjadi fondasi kami karena bisa menjamin keamanan. Proyek pesanan, kerja sama pengembangan, dan pekerjaan-pekerjaan semacam ini memang luar biasa aman."
Dan rasa aman itulah yang memungkinkan studio ini mengambil risiko, seperti yang dilakukannya dengan Dead by Daylight dan Deathgarden, game multipemain asimetris lainnya yang mereka rilis pada tahun 2018.
Dengan Deathgarden, game penembak orang pertama, studio ini mencoba meraih kesuksesan yang sama seperti Dead by Daylight. Saat itu, studio ini masih belum tahu berapa lama DBD akan bertahan, dan mereka merasa perlu mencoba peluang dengan judul lain, untuk alasan "keamanan maupun kesenangan."
"Kami punya banyak pengembang yang memiliki ide-ide superkeren untuk dicoba, dan kami cukup beruntung bisa punya kesempatan untuk mewujudkannya," ujar Cote.

"Ambisi untuk mencoba berbagai hal selain Dead by Daylight masih ada sampai sekarang," tambahnya. Ini bisa dilihat dari akuisisi terbaru yang dilakukan oleh perusahaan ini. Pada tahun 2024, perusahaan ini mengakuisisi Red Hook Studios, pembuat Darkest Dungeon dan sekuelnya. Dan awal tahun ini, perusahaan ini membeli The Fun Pimps, pengembang 7 Days to Die.
"Jelas, horor adalah taman bermain kami," katanya. "Kami ingin menjadi rumah horor, tapi selain itu, judul-judul ini sudah mapan dan punya basis penggemar yang loyal, dan aliran pendapatannya sudah berjalan."
Sekarang, perusahaan ini punya sekitar 1.300 karyawan di seluruh dunia, sekitar 400 di antaranya mengerjakan Dead by Daylight dan sisanya memegang proyek pesanan. Ada perbedaan besar dalam sistem proyek pesanan yang mereka kerjakan saat ini, karena sekarang Behaviour bisa jauh lebih selektif dalam memilih proyek yang ingin mereka kerjakan.
Sejak merilis Dead by Daylight, perusahaan ini telah mengerjakan segala macam game, mulai dari Warhammer, Halo dan Assassin's Creed, hingga game Monopoly dan Worms.
Meski begitu, mereka memang tak mau mengambil proyek pesanan bergenre horor.
"Kami berusaha untuk tidak memakan pasar kami sendiri," ujar Cote. "Kami ingin mengembangkan game atau menerbitkan game horor, tapi jika orang lain yang menerbitkannya, kami lebih memilih melakukannya sendiri."
"Banyak yang mendatangi kami dan bertanya, 'Apa kalian bisa membuatkan kami game horor multipemain asimetris? Kalian, 'kan, jagonya.' Kami cuma menjawab, 'Tidak, kami tidak bisa melakukan itu.' Tapi, kalau kalian ingin game tembak-menembak yang seru, atau kalian ingin kami mengerjakan Civilization, Halo, atau Gears of War yang baru, kami tentu bisa membantu."

Sepuluh tahun penuh kengerian
Dua tahun pertama Dead by Daylight masih terasa kabur bagi Cote.
"Kami belum terlalu ahli dalam mengelola game live," katanya. "DBD tidak dirancang sebagai game live. Game itu dirancang sebagai game biasa, lalu kami menjaganya terus hidup. Kira-kira itulah yang terjadi."
Starbreeze Studios menerbitkan game tersebut dari tahun 2016 hingga 2018, kemudian Behaviour Interactive membeli hak penerbitannya. Selama dua tahun pertama itu, game tersebut juga dirilis di konsol, dan fitur toko dalam game mulai ditambahkan.
"Memasuki tahun ketiga atau keempat, kami sudah punya gambaran yang jauh lebih jelas tentang ke mana game ini bisa dikembangkan. Dan jika game ini terus berkembang, disertai pengambilan keputusan yang tepat, kami juga bisa melihat titik terjauh yang bisa dicapainya," ujar Cote. "Tapi, kurasa tak ada seorang pun yang benar-benar mengira kami akan sampai di titik ini. Dalam berbagai presentasi, kami sering bilang 'kalian akan tercengang selama lima tahun ke depan,' dan itu sungguh terjadi. Meski terdengar sangat meyakinkan bagi orang-orang, kami sebenarnya tidak terlalu mempercayai ucapan kami saat itu."
"Itu bentuk ambisi kami."
Akhir pekan ini, tak bisa dimungkiri bahwa ambisi itu telah terwujud ketika perusahaan tersebut merayakan 10 tahun perilisan Dead by Daylight dengan sebuah pesta ulang tahun yang terbuka untuk umum di Montreal.
Acara itu menghadirkan panel diskusi, sesi temu penggemar, stasiun game, pameran seni, area imersif bertema para Killer, Escape Room Kabin Jason, merchandise, makanan, dan banyak sekali berita baru.
Acara dibuka dengan rangkuman Chapter mendatang yang akan menghadirkan Jason Voorhees dari Friday the Thirteenth, yang akan dirilis pada 16 Juni. Mereka juga mengumumkan bahwa Shane Wiigwaas, Survivor pribumi pertama dalam game ini, akan hadir di Dead by Daylight: The Life Road pada 25 Juni.
Art the Clown, badut penuh darah yang identik dengan warna hitam, putih, dan seringkali merah dari film-film independen Terrifier juga dijadwalkan akan hadir di The Fog pada November ini. Pengumuman lainnya meliputi kabar bahwa Dead by Daylight: Chorus of Sin , Chapter pertama dalam sejarah game ini yang dikembangkan bersama komunitas, akan dirilis pada bulan Agustus. Selain itu, adaptasi Chapter dari The Casting of Frank Stone, game standalone naratif pertama Dead by Daylight, juga dijadwalkan hadir pada 2027.
Para tim di balik game ini juga memberikan cuplikan beberapa Collection yang akan datang. Black Banquet Collection akan memberikan pakaian formal yang pantas untuk pesta, sementara Sunflesh Collection akan mengusung tema gurun.
Mereka juga memamerkan Outfit Legendaris Eddie yang baru untuk The Huntress dalam rangka ulang tahun ke-50 Iron Maiden, serta Collection bertema Ice Nine Kills, yang terinspirasi dari band heavy metal yang memperkenalkan lagu dan video musik baru bertema Dead by Daylight di acara tersebut.
The Walking Dead Collection akan menambahkan Glenn dan Negan sebagai Outfit Legendaris untuk Rick, sementara Outfit Legendaris baru dari Silent Hill Collection untuk Cheryl akan mengubahnya menjadi Shimizu Hinako dari SILENT HILL f, game horor psikologis dari KONAMI.
Mungkin yang paling menarik (setidaknya bagiku) adalah pengumuman bahwa Diablo Collection akan hadir Oktober ini, dan game ini juga akan mendapatkan Scooby-Doo Collection.

Killer dan Survivor
Meski banyak pihak menganggap komunitas sebagai resep rahasia di balik kesuksesan besar Dead by Daylight , Killer dan Survivor baru yang terus hadir, baik yang diciptakan sendiri oleh tim pengembang maupun yang diambil dari karya-karya horor terkenal, merupakan tulang punggung sejati game ini.
Tapi, aku penasaran bagaimana tim ini memutuskan apa saja yang akan dimasukkan ke dalam game. Jika mengesampingkan kreasi orisinal Dead by Daylight, yang biasanya terinspirasi dari mitologi dunia dan kisah-kisah hantu, genre horor sendiri memiliki sejarah perfilman yang membentang hingga awal 1900-an. Setiap tahun, makin banyak karya baru bermunculan, beberapa di antaranya berhasil menarik perhatian publik dan menjadi fenomena budaya, seperti Sinners, Weapons, atau Obsession tahun ini.
Jadi, mengapa memilih Art the Clown?
Meskipun badut psikopat berwajah hitam-putih ciptaan Damien Leone itu sukses besar melalui film-film Terrifier, Art tetap berasal dari film horor independen beranggaran rendah.
Art pertama kali muncul dalam dua film pendek, yaitu The 9th Circle tahun 2008 dan Terrifier tahun 2011, sebelum mendapatkan debut film panjangnya dalam antologi horor All Hallows' Eve pada tahun 2013.
Baru setelah film Terrifier tahun 2016 ia mulai benar-benar menarik perhatian khalayak yang lebih luas.
"Salah satu hal yang menurutku paling menarik tentang Terrifier adalah film itu bahkan belum ada ketika kami merilis Dead by Daylight," ujar Cote. "Tapi hari ini, menurut banyak orang, film itu dianggap sebagai salah satu legenda horor. Rasanya menarik sekali karena kami sudah ada sebelum judul itu terlahir, dan kini ia dianggap sebagai bagian penting dalam sejarah horor. Karena itulah rasanya tepat untuk menghadirkannya ke dalam game."
Tentu saja, ada banyak pertimbangan lain ketika memilih sebuah karya horor untuk dimasukkan ke Dead by Daylight. Apakah karakternya punya penampilan yang mencolok? Apakah karakternya cukup unik sehingga para pengembang bisa membangun mekanisme gameplay yang keren untuk karakter itu?
"Kami ingin menampilkan karakter itu sebagai bentuk penghormatan kepada materi aslinya, tapi di saat yang sama, karakter itu juga harus menghadirkan mekanisme gameplay yang menurut para pemain menarik," ujar Cote.
Jason adalah contoh yang sangat baik terkait hal ini. Meskipun karakter itu bisa dibilang salah satu pembunuh paling terkenal dalam sejarah horor, Dead by Daylight meluncurkan versinya sendiri dengan gaya membunuh khas karakter tersebut lewat The Trapper.
"Dia adalah bentuk penghormatan kami kepada Jason, sosok ikonik bertopeng yang bersenjatakan besi besar," katanya. "Karena itu, penting bagi kami untuk menemukan sentuhan yang tepat agar bisa menonjolkan beberapa aspek karakter yang unik dari dirinya."
Hal yang sama juga berlaku untuk Art.
Keputusan-keputusan tersebut sebagian juga dipengaruhi oleh komunitas dan survei rutin yang dilakukan perusahaan untuk mengetahui karakter apa yang ingin mereka lihat dalam game. Survei itu bahkan bisa memperoleh hingga 100.000 tanggapan. Dan terkadang, bisa jadi alasannya hanya karena ada Killer atau Survivor yang ingin ditambahkan oleh salah satu anggota tim pengembang.

Contohnya The Cenobite dari Hellraiser.
"Aku berjuang keras agar Cenobite bisa ditambahkan ke dalam game," kata Cote. "Anggota-anggota tim yang masih muda saat itu menjawab, 'Siapa itu? Dia sudah tidak relevan. Aku pernah lihat mukanya entah di mana, tapi aku belum pernah menonton filmnya.'"
Pada akhirnya, tim itu tetap menghadirkan karakter tersebut ke dalam game, dan tampaknya itu juga mendorong banyak pemain untuk menonton film-film Hellraiser.
Tim itu juga hanya merilis kurang lebih dua karakter berlisensi ke dalam game tiap tahunnya, jadi mereka harus sangat selektif.
Menurut Jose Ramos, VP dan Executive Producer Dead by Daylight, dukungan komunitas untuk menghadirkan Art dan Terrifier begitu besar sehingga keputusannya tak perlu dipertimbangkan lagi.
Meskipun game ini paling dikenal karena daftar Killer terkenalnya yang terus bertambah, para pengembang terkadang juga berani mengambil risiko besar dalam memilih apa yang akan dimasukkan ke dalam game. Contohnya, pada tahun 2024, mereka memutuskan untuk merilis sebuah Chapter berdasarkan Dungeons & Dragons, sesuatu yang mungkin tak terlintas di benak kalian ketika memikirkan genre horor.
Ternyata, itu bukan ide paling gila yang pernah mereka diskusikan.
Saat aku bertanya apakah suatu hari nanti Dead by Daylight bisa menghadirkan sesuatu seperti Jaws di dalam game, dengan peta berupa lautan yang berisi area seperti pantai dan kapal karam, mereka tidak menepis ide itu.
"Oh, tentu saja!" jawab Cote dengan antusias.
"Kami bahkan pernah memikirkan ide-ide yang jauh lebih kreatif," tambah Ramos.
Cote berkata bahwa Creative Director game ini pernah membahas cara menghadirkan dua karakter dari novel Stephen King, yaitu Cujo (anjing Saint Bernard yang terinfeksi rabies) dan Christine (mobil berhantu), ke dalam game.
"Nah, itu sudah cukup nyeleneh," ujar Cote. "Jaws sendiri sudah dibahas panjang lebar secara internal. Bagaimana cara mewujudkannya? Untungnya, kami membangun dunia Dead by Daylight sebagai sebuah mimpi buruk, jadi apa yang ada di dalamnya tidak harus benar-benar masuk akal. Tidak masalah jika ada hal-hal yang aneh. Kalian bisa saja berlari sambil merasa seperti bergerak di dalam cairan kental karena sedang berada di bawah air. Tidak masalah. Kalian tidak perlu bernapas. Kalian tidak perlu memikirkan hal-hal semacam itu. Kalian sangat mungkin dikejar seekor hiu. Kurasa ada banyak cara untuk mewujudkannya. Terlebih lagi, setiap Killer bisa punya aturannya sendiri, 'kan? Saat kalian bermain melawan Killer tertentu, permainannya sedikit berbeda. Aturannya sedikit berbeda, dan kami bisa mendorong konsep itu lebih jauh lagi. Kami bisa membuat sesosok Killer yang aturan mainnya sangat berbeda.
"Selama menyenangkan untuk dimainkan, dan selama menyenangkan juga saat melawannya, seharusnya tidak ada masalah."
Ramos menambahkan bahwa ada hal lain yang belakangan ini sering ia pikirkan, yaitu kurangnya keterwakilan subgenre horor komedi di Dead by Daylight.
"Sebenarnya sudah ada sedikit unsur itu dalam beberapa aspek, tapi kami rasa akan benar-benar menyenangkan, terutama saat event, jika sesuatu yang luar biasa imut bisa mendapatkan versi yang mengerikan. Itu sesuatu yang pasti akan kami eksplorasi."

Dead by Daylight 2036
Perayaan ulang tahun ke-10 game ini juga menyinggung arah perkembangan game ini selama sepuluh tahun ke depan.
Mungkin perubahan yang paling besar adalah perombakan visual besar-besaran yang ditargetkan akan mulai diluncurkan pada tahun 2027. Pembaruan itu akan menghadirkan pengerjaan ulang model karakter dengan kemampuan animasi yang lebih luas, serta animasi wajah yang lebih realistis sehingga karakter dapat menampilkan ekspresi dan nuansa emosi yang lebih baik. Peta dan lingkungan dalam game juga akan mendapatkan peningkatan signifikan, termasuk pencahayaan, bayangan, dan tekstur yang lebih baik, efek kabut yang ditingkatkan, kehadiran Entity yang lebih terasa, serta penambahan sistem cuaca dinamis berupa gerimis, hujan deras, dan badai. Selain itu, seiring berjalannya waktu, dialog suara baru juga akan direkam dan ditambahkan untuk seluruh karakter orisinal yang memungkinkan sebagai bagian dari rencana tersebut.
Dead by Daylight juga akan mendapatkan pilihan Mode Permainan yang lebih beragam dalam beberapa tahun mendatang, termasuk Mode 1v1 dan Mode Zombie.
Tim pengembang juga mengumumkan bahwa game ini akan secara resmi dibuka untuk mod terkurasi. Saat ini mereka sedang mengembangkan seperangkat alat yang rencananya akan diberikan kepada para pemain tahun depan. Menurut perusahaan, alat-alat tersebut akan menyediakan semua yang dibutuhkan pemain untuk membuat dan membagikan peta dan mode permainan baru, serta berbagai konten lainnya.
Dengan terus bertambahnya rekor yang dipecahkannya, game ini makin menarik perhatian di luar dunia video game, yang memicu lahirnya versi permainan papan, seri komik, dan, seolah kembali ke titik awal, sebuah proyek adaptasi film.
Film tersebut, yang pertama kali diumumkan pada tahun 2023, akan diproduseri oleh Jason Blum dan James Wan melalui Blumhouse Productions dan Atomic Monster. Awal tahun ini, David Leslie Johnson-McGoldrick (The Conjuring 2, Insidious: Out of the Further) dan Alexandre Aja (The Hills Have Eyes, Maniac) direkrut untuk menulis naskah film itu.
Pada hari Minggu lalu, Executive Vice President Behaviour Interactive, Stephen Mulrooney, dan Blum mengumumkan bahwa skenario filmnya telah selesai dan Thordur Palsson (The Damned) akan menjadi sutradaranya. Film tersebut dijadwalkan tayang pada akhir tahun 2027.
Palsson mungkin terkesan seperti pilihan yang tidak biasa untuk membawa waralaba sebesar dan serumit ini ke layar lebar, mengingat sutradara asal Islandia ini baru menyutradarai satu film. Namun, Cote mengatakan bahwa dia sangat direkomendasikan oleh Blum dan Wan.
"Aku merasa saat ini ada gelombang besar kemunculan nama-nama baru dengan portofolio yang masih sangat sedikit yang diberi kesempatan untuk membuat sesuatu yang keren di genre horor, dan mereka berhasil membuktikan diri. Kita sudah menyaksikan kasus yang sama di beberapa film besar belakangan ini. Jadi rasanya sangat menarik, sekaligus menegangkan.
"Palsson belum punya portofolio yang panjang, tapi dia benar-benar tahu cara membuat orang merasa tak nyaman, cara membangun suasana, dan cara menampilkan adegan-adegan yang intens. Dan yang terpenting, kami punya naskah yang sangat keren, jadi kami butuh seseorang yang mampu membuat cerita ini terasa intens dan menyeramkan."
Metaverse Horor
Dead by Daylight sempat muncul sekilas dalam acara Summer Game Fest awal bulan ini, tapi bukan untuk mengumumkan sesuatu yang baru. Yang ditampilkan adalah sebuah video pendek yang bertujuan untuk merayakan konsep Dead by Daylight sekaligus mengajak orang-orang untuk menyaksikan siaran perayaan ulang tahun game tersebut.
Aku melihatnya sebagai semacam mood board video dari game itu.
Cote mengatakan bahwa video itu dibuat untuk mengingatkan orang-orang bahwa, di balik hal-hal lainnya, game mereka pada dasarnya dirancang untuk memberikan rasa takut.
"Game ini memang seru. Kalian bisa berlari-larian dan melakukan hal-hal konyol bersama, tapi game ini sejatinya adalah tentang horor. Kami juga akan membuat kalian ketakutan setengah mati. Kalian harus ingat itu baik-baik. Tapi, tentu saja, game ini juga tetap menyenangkan."
Penghormatan terhadap berbagai trope horor klasik dalam video berdurasi satu menit tersebut, yang menampilkan kabin di tengah hutan, rumah-rumah terbengkalai, darah yang mengalir, dan bisikan lagu "selamat ulang tahun" yang semakin memuncak, membuatku berpikir bahwa mungkin tanpa disadari, Behaviour Interactive sedang menciptakan sebuah metaverse versi gelap. Sebuah tempat yang dihuni sepenuhnya oleh mimpi buruk yang diambil dari legenda urban, mitologi, buku, televisi, video game, dan film.
Aku bertanya apakah tim mereka pernah memikirkan hal itu, dan apa implikasinya terhadap game.
Ramos mengatakan bahwa hal tersebut mengingatkannya pada besarnya rasa hormat yang harus diberikan tim itu kepada karakter-karakter yang mereka satukan di dalam game.
"Kurasa salah satu kekuatan super Dead by Daylight adalah kemampuan untuk benar-benar menghormati lisensi, keinginan pemegang lisensi, serta identitas merek dan nilainya di mata orang-orang yang tumbuh besar dengan mencintai lisensi-lisensi itu," katanya. "Karena itu, ada semacam tanggung jawab untuk memastikan bahwa kami tidak sekadar menambahkan nama dan mencentang daftar. Kami harus menghormati setiap karakter yang kami hadirkan."
Cote menambahkan bahwa menurutnya, tidak banyak game yang melakukan hal seperti itu.
"Kami mengambil karakter-karakter itu dan menyatukannya seperti sedang membuat soufflé," katanya. "Mereka tidak bisa sekadar menjadi skin untuk sesuatu yang sudah ada di game kami. Di sinilah tempat kalian bisa mewujudkan fantasi menjadi Pinhead. Tidak ada tempat lain yang bisa menghadirkan itu. Kalian bisa menjadi Pinhead yang mengejar anak-anak dari Stranger Things. Dan semua ini harus saling terkait dan sesuai dengan latar dunianya. Kita perlu menciptakan karakter yang utuh beserta mekanisme gameplay, suasana, tujuan desain, bahkan kostum alternatifnya, dan semua itu harus unik".
Dengan adanya itu semua, serta komunitas yang terus berkembang dan mencintai berbagai aspek horor ini, rasanya sayang jika pemain hanya bisa bermain bersama seperti game biasa. Karena itu, aku bertanya apakah tim pengembang pernah mempertimbangkan untuk memperluas pengalaman bermain agar pemain bisa saling berinteraksi di luar gameplay kejar-kejaran dan bersembunyi khas Dead by Daylight.
"Semacam lobi atau pulau pesta seperti yang ada di Fortnite?" tanya Cote.
Ramos menjawab bahwa itu sebenarnya merupakan salah satu visi awal game tersebut. Sebuah lobi 3D dan interaksi yang lebih luas.
"Aku cuma bisa bilang bahwa, pada akhirnya nanti, itu akan ada di game ini," tambah Ramos. Kami memang menginginkan ruang sosial. Kami menginginkan elemen interaksi itu."
Ramos mengatakan bahwa ketika bergabung dengan perusahaan itu pada tahun 2022, dia sangat takjub saat melihat data di balik Dead by Daylight dan seberapa sosialnya game tersebut.
"Persentase pemain yang bermain dengan setidaknya satu teman itu luar biasa," katanya. "Aku belum pernah melihat angka seperti itu sebelumnya. Benar-benar gila. Jadi yang pasti, itu adalah sesuatu yang ingin kami dorong, bukan untuk menciptakan sesuatu yang tidak sesuai dengan identitas kami, melainkan sesuatu yang memperdalam imersi pemain. Kurasa ini sesuatu yang bisa sangat amat seru, dan itulah yang sedang kami jajaki saat ini."
Dapatkan Dead by Daylight hari ini di Epic Games Store.